Semua Pasta Gigi adalah Odol

Dari sekian banyak merek pasta gigi di Indonesia, Odol adalah yang paling terngiang di kepala orang-orang Indonesia. Padahal merek Odol sudah puluhan tahun tidak beredar lagi di Indonesia. Orang-orang lebih mudah menemukan Pepsodent, Close Up, Colgate atau yang lainnya di toko kelontong. Tapi tidak merek Odol. Odol diingat karena distribusinya di masa-lalu hingga dikenal masyarakat Indonesia era kolonial dan beberapa tahun setelahnya. 

Saking terkenalnya merek pasta gigi Odol sehingga banyak orang-orang Jawa (bahkan sampai sekarang) masih menyebut pasta gigi dengan "odol" tulis Albertus Budi Santoso dalam Identitas dan postkolonialitas di Indonesia (2003). Tak hanya di Jawa saja, tapi juga di pulau-pulau lain. Banyak lidah masih sulit menyebut pasta gigi atau tapal gigi, yang dua kata dan agak panjang untuk menyebut satu benda. Menyaksikannya sebagai Odol, yang hanya satu kata dan empat huruf, tentu lebih mudah. 

Di Indonesia, Odol adalah merek yang sama nasibnya dengan Honda, Sanyo, Kodak, atau Aqua. Semua sepeda motor apapun mereknya adalah Honda, padahal Honda salah satu merek yang beredar. Seperti Sanyo untuk semua mesin pompa air; Kodak untuk semua foto film dan semua air minum kemasan adalah Aqua. “Sebagian besar penyandang gelar nama generik (itu) adalah pionir untuk kategori setiap produk,” tulis Hermawan Kertajaya dalam Hermawan Kertajaya on Brand (2007) 

Odol di masa lalu adalah merek milik perusahaan Jerman yang didirikan Karl August Lingner (1861-1916), yang bernama Dresden Chemical Laboratory Lingner. Menurut Helmut Obst dalam Karl August Lingner, ein Volkswohltäter? (2005), perusahaan itu didirikan pada 3 Oktober 1892. Menurut David Carlo, dalam Advertising Empire: Race and Visual Culture in Imperial Germany (2011), tahun 1893, Odol tampil sebagai salah satu merek produk obat pembersih mulut Jerman. Dan, Ken Geiser dalam Chemicals Without Harm: Policies for a Sustainable World (2015) menyebut, pasta gigi bermerek Odol masuk pasar pada 1903. Kata Odol sendiri singkatan dari dua kata Yunani: odus (gigi) dan oleum (minyak). 


Odol memproduksi obat perawatan gigi, gusi, mulut dan tenggorokan itu baik berupa obat kumur atau pasta gigi ini. Produk-produk tersebut sudah dijual di lebih dari 20 negara, termasuk Negeri Belanda, lalu ke tanah koloninya: Hindia Belanda—yang belakangan jadi Indonesia. Untuk penjualan Odol di Hindia Belanda, pernah ada perusahaan bernama N.V. Odol Maatschappij. 

Mingguan Djaja (1965) menyebut soal mengapa “tapal gigi disebut Odol, mungkin karena tapal gigi yang pertama masuk di Indonesia mereknya Odol.” Odol sebagai pasta gigi pertama cukup diamini sebagian orang Indonesia. Hubungan Odol dengan Indonesia bisa dilihat dalam majalah dagang Bataviasch Nieuwsblad (24/12/1894), yang terdapat iklan kecil Odol. Berbunyi: “Winkel Maatschappij Eigen Hulp Odol!!! Idol!!! Odol!!! Eenige Importeurs voor geheel Java.” Winkel-Maatschappij Eigen Hulp adalah sebuah toko serba ada di Batavia antara 1890 hingga 1929 dan menyalurkan pasta gigi Odol di Jawa. Setidaknya tahun 1894 obat pembersih mulut Odol ini sudah dimasukkan ke Indonesia. Untuk produk pasta gigi Odol, tentu saja setelah 1903. 

Odol yang beredar di Hindia Belanda, bungkus dan tube bertuliskan: Odol, lalu ada tulisan Tandpasta, yang artinya pasta gigi dalam bahasa Belanda. Versi Jerman, tulisannya di bawah Odol adalah: Zahnpasta—yang artinya pasta gigi dalam bahasa Jerman. Di dalam iklan terdapat tulisan Mooi tanden, yang artinya gigi bagus dalam bahasa Belanda. 

Pada zaman kolonial, kehadiran Odol di Indonesia juga mendapatkan saingan seperti Colgate atau Pepsodent. Keduanya dari Amerika. Namun, Odol masih menjuarai pasar. Kepopuleran Odol membuatnya banyak ditiru. Pada sekitar tahun 1911, surat kabar Bendera Wolanda menyebut: "sekarang adalah banyak toko-toko yang menjual pasta gigi Odol tiruan kepada orang banyak."

Iklan-iklan pasta gigi bertebaran di surat-surat kabar era kolonial. Mereknya tertancap kuat di benak rakyat Indonesia hingga turun temurun. Belakangan, Odol yang sudah terserap di kepala orang-orang Indonesia justru tak menjual lagi pasta giginya di Indonesia. Padahal produk pembersih mulut dan pasta gigi Odol masih beredar di luar negeri. Sementara itu pasta gigi Pepsodent atau Colgate masih beredar di pasaran. Padahal, hasrat sikat gigi orang-orang Indonesia makin meningkat dibanding masa-masa sebelum Proklamasi 1945. Makin jarang orang sikat gigi dengan batu bata yang digosok. Namun, seringkali orang-orang Indonesia mengkategorikan Pepsodent, Colgate, Close Up dan lainnya sebagai: Odol. 

Kata odol bisa ditemukan dalam novel, di antaranya karya Leila S Chudori, Malam Terakhir (1989) atau Moammar Emka, Maaf, Saya Menghamili Istri Anda: a Novel (2007). Dalam buku sejarah pun demikian. Abdul Haris Nasution, dalam Sekitar perang kemerdekaan Indonesia - Volume 5 (1978) menyebut Odol—bersama sikat gigi, sabun wangi dan lainnya—sebagai sesuatu yang harus dimiliki prajurit TNI. Tentu saja akan sulit menebak apakah merek pasta gigi yang dipakai sebenarnya. Dan semua pasta gigi pun dianggap Odol. 

Link