Konflik Timur Tengah

Timur tengah selalu berkobar bukan karena watak manusianya, melainkan lebih karena watak alamnya yang kaya migas sehingga menjadi sumber utama energi dunia. Sumber daya alamnya membuat kawasan ini selalu diincar neo-imperialis Barat yang telah memasang Israel sebagai agennnya.

Masyarakatnya lantas terbelah menjadi dua kubu:

Pertama, kubu kompromistis yang rela memberi konsesi dan "pajak" kepada imperialis. Mereka semua adalah rezim-rezim kerajaan yang dulu tahtanya sengaja disukseskan oleh Inggris. Mereka selama ini hidup hanya untuk tawar menawar dengan imperialis sehingga setidaknya diambil solusi win-win solution, sama-sama kenyang. Barat sedapat mungkin membiarkan mereka kenyang dan bertahta agar tak melawan. Hanya karena tak mau melawan Israel, kubu ini disebut Barat sebagai kubu moderat.

Barat sangat diuntungkan oleh sistem monarki yang mewarnai kubu ini, karena jika pemerintahannya demokratis maka Barat jelas akan berhadapan dengan rakyat yg tidak mungkin akan berkompromi dengan Israel dan kekuatan-kekuatan imperialis pendukungnya.

Kedua, kubu anti kompromi. Kubu ini berteriak lantang bahwa Israel harus musnah. Palestina adalah harga mati. Iran yang demokratis mewakili kubu ini sehingga Imam Khomaini menyebut Israel sebagai kanker. Kanker harus musnah, karena tak mungkin manusia bisa hidup damai bersama kanker. Kubu inilah yang kini lazim disebut kubu resistensi (muqawamah).

Hanya karena melawan imperialisme, kubu ini dicap oleh Barat sebagai kubu radikal, ekstrem, teroris, dan disamakan dgn ISIS yang sebenarnya diciptakan oleh Barat sendiri untuk menghabisi kubu resistensi ini.

Konflik yang terjadi selama ini tidak lepas dari konfrontasi antara kubu muqawamah di satu pihak dan kubu imperialis dan kubu kompromistis di pihak lain. (moh musa)

- Benarkah barat selalu bermain, atau memang ada sejarah kekuasaan dan sejarah politik yang rumit di timur tengah lalu dimanfaatkan pihak lain. Kekuasaan, kepentingan, pengaruh dan bisnis memang tak pernah lepas dari penyebab konflik.